Kamis, 12 Maret 2020

Iman


§  Yakinlah bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alan (Rabbul ‘alamiin). Dia-lah yang telah menciptakan segala yang ada di dunia ini. Tak ada yang lain. Semua selain-Nya adalah makhluk-Nya. Semuanya tunduk, patuh, dan menyembah hanya kepada-Nya.

§  Dia-lah penggenggam alam semesta. Dia adakah Raja yang Maha Merajai. Dia yang menciptakan manusia sejak Nabi Adam ‘alaihis salam hingga manusia akhir zaman. Allah yang menentukan segala sesuatu di dunia ini.

§  Allah yang telah menentukan segala sesuatu tentang manusia. Tentang ajalnya, rezakinya, jodohnya, bahagia dan celakanya. Semuanya telah Allah tentukan semenjak manusia berada di dalam rahim ibunya.

Adat Kakurung Ku Iga

Loba jalma anu teu bisa ngomean dirina sorangan. Sabab, manehna ngarasa sampurna teu boga kakurangan, teu boga kasalahan. Nu antukna, manehna salawasna nganggap batur we wungkul gudangna kasalahan teh. Ari dirina sorangan estuning ngarasa suwung tina dosa jeung kasalahan.

Padahal mah samistina tiap jalma sadar kana kakurangan jeung kasalahan diri. Ulah loba teuing nempo kana kakurangan jeung kasalahan batur. Diri sorangan kalah kapopohokeun, kalelemorekeun.

Moal bisa diomean ku batur, kudu diomean ku diri sorangan. Sabab, nalika diomean ku batur mah sok karasana teu ngeunah. Nyeri hate, tugenah, asa diteungteuinganan.

Matak taya deui cara anu praktis keur ngomean diri iwal ti diomean ku diri sorangan. Kudu rajin ngoreksi diri, muhasabab diri, ngitung-ngitung kasalahan jeung kakurangan diri. Boa-boa diri teh loba pisan ku kasalahan jeung kakurangan.

Pasti Masuk Surga Tapi tidak dijamin selamat dari Neraka

Bagi seluruh umat Islam jangan khawatir tidak masuk ke surga. Hanya saja tidak ada jaminan terbebas selamat dari siksa api neraka. Karena setiap muslim itu sudah dijanjikan akan dimasukkan ke dalam surga. Namun, setelah mereka dibersihkan dulu dari dosa-dosanya di neraka.

Setiap muslim pasti akan dimasukkan ke surga, asal dia beriman kepada Allah. Meskipun dia melakukan banyak dosa. Malah bukan hanya muslim saja, orang kafir pun asal di akhir ucapannya menjelang kematian kalimat tauhid. Dia dipastikan akan dimasukkan ke dalam surga.

Obrolan Ucun


Lain nya Ma! Mending keneh piknik atawa nyieun kamar tea?”
“Nya atuh mending ipil-ipil we kadinyah pan rek orokan keh”.
“Nya atuh, moal jadi piknik mending dipake nyieun kamar we”.

Sorena nyi Ucun ngobrolkeun naon nu tadi beurang digunem-caturkeun jeung indungna.
“Mending ge duit teh kang dipake kuriak nyieun kamar tibatan dipake piknik mah. Tadi abdi ngobrol jeung ema”.
“Nya ari akang mah da henteu diktator, moal maksakeun kahayang. Da aya rencana piknik teh pan basa can katangen rek boga budak deui. Jeung deuih da lain kahayang keur sorangan, ngan tadina mah hayang mawa anak jeung pamajikan we hiburan. Nya ayeuna rek moal jadi tuluy duitna rek dipake nyieun kamar, nya sok we”.

“Nya ngan duitna pan ngan aya lima ratus rebu, sedengkeun kabutuhna pan sajuta keur GRC, kaso-kaso, paku, jeung keur buruh nu digawena kang Iat”.
“Nya atuh tungtut we, da sidik ngan sakitu ayana. Ke lamun aya deui milik jeung rizkina tina acara nya urang tuluykeun deui”.
“Nginjem we atuh ka sakola sajuta!”
Salakina, dititah nginjem teh teu ngajawab, kalahka jempe teu lemek teu nyarek.

Keur paguneman, gorowok sora Nasrul ngagorowok, Mah! Mah! Ka warung!” pokna.
Nyi ucun nembalan bari jung cengkat tina diukna, “Nya jang, antosan, mamah kadinya”
Jang Rahmat tuluy ngaringkuk deui bari dikarimunan ku simbut.

Abdul Hamid Al- Hilali

Kesedihan bisa mempengaruhi suasana hati. Sementara hati akan menjadi pekat kalau selalu dirundung kesedihan karena meratapi hilangnya dunia. Namun sebaliknya kalau kesedihan itu karena meratapi sesuatu yang hilang dari urusan ukhrawi akan menyebabkan hati menjadi tenang dan tentram. Maka ketahuilah, bahwa: Hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas habisnya umur yang sia- sia tanpa amal yang bermanfaat. Hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas maksiat yang telah dikerjakan, sehingga hati menjadi takut kalau hal itu akan menghalangi diri dari masuk surga Allah. Hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas tindakan menyia- nyiakan hukum Allah dengan mengambil alih hukum- hukum buatan manusia. Hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas terhinanya kaum muslimin karena mereka telah dikuasai oleh orang- orang kafir. Hati akan bersinar dengan kesedihan karena menyesal atas perpecahan yang terjadi di tubuh para ulama/ da’i- da’i muslim karena egoisme mereka yang hanya sibuk dengan urusan pribadi daripada memikirkan tujuan dakwah yang lebih utama.

Purnama


Purnama


Nikmatnya khusyu menjalankan shalat tarawih begitu terasa oleh seluruh jama’ah masjid Baitur Rahmah. Semua insan berkumpul bersama rukuk dan sujud di rumah Allah. Kepala tertunduk dibarengi pandangan mata ke tempat sujud. Telinga dimanjakan alunan suara Al-Qur’an yang keluar dari lisan sang imam yang hafizh Qur’an. Ustadz Rohim, pembina majelis taklim Al-Mar’atus Shalihah, Pengasuh Pondok Modern Daarun Ni’mah.

Tak kuasa menahan, tetes air mata jama’ah mengalir melewati pipi mereka yang tersinari cahaya lampu masjid. Air keluar dengan deras, tak tertahan, meski suara segukan yang tertahan. Ini bukan secara kebetulan, tapi akibat dari guncangan hati yang tersentuh alunan suara Al-Qur’an. Suara dari sebagian ayat Surat Ar-Rahman, “fabi ayyi alaa irabbikumaa tukadzdziban?”

Gerak dan bacaan yang iramanya teratur tanpa kecepatan maraton. Dari awal takbir rakaat pertama hingga salam rakaat ke sebelas. Lama, agak panjang, tapi tak terasa. Karena semua hati merasa suana yang sama. Nyaman. Ya, suasana nyaman bermesraan dengan kalam Ilahi. Berlama-lama berdialog dengan Sang Penguasa alam semesta. Dia-lah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Satu per satu jama’ah meninggalkan masjid. Yang tersisa hanya beberapa jama’ah saja. Mereka adalah ustadz Rohman, ustadz Rohim, mang Fadhil, Royyan, Salman, Azroq, dan Gufron. Mereka memang tidak lekas pulang meninggalkan masjid. Tapi biasa diam berkumpul dulu untuk ngobrol seputar agama sambil santai.

Yang terakhir dari jama’ah yang pulang tarawih itu adalah Hazimah. “Ayo cepet teh yang lain udah pada jauh” kata Nirma sambil menarik tangan Hazimah.

“Iya, ayo, jangan sambil narik tangan kakak atuh Nir!” Hazimah menjawab sambil badannya sedikit tertarik oleh Nirma.

“Hehe, maaf teh” kata Nisa sambil tertawa.

Hazimah dan Nirma adalah kakak beradik yang selalu bersama. Mereka berdua, berada di sini. Di Ramadhan ini, di masjid ini, dan di kehidupan ini. Ya, karena mereka tidak bersama dengan orang tua mereka. Ayahnya, pak Karmidi sudah meninggal ketika Nirma berusia tiga tahun. Sedangkan ibunya bersama ayah tirinya, pak Umar.

Akhirnya, Hazimah dan Nirma sampai di rumah. Sebuah rumah kecil di deretan rumah penduduk di kampung itu. Rumah berdinding bilik bambu, bergenting asbes. Ada perabotan mewah dalam rumah itu, yang ada hanya perabotan seadanya saja.

Nisa mengambil kunci dari dalam saku bajunya, kemudian memasukan ke lubang kunci. Dia lalu masuk ke dalam rumah, kemudian Hazimah mengikuti. Mukena tidak langsung mereka buka, tapi mereka malah langsung mengambil mushaf Al-Qur’an. Mereka duduk di atas tikar berukuran 2x3 meter. Hazimah dan Nirma melanjutkan tilawah harian, mereka memasang target bisa khatam sebulan. Di malam purnama ini mereka sudah menyelesaikan tilawah 13 juz.

Selesai tilawah, Hazimah dan Nirma melepaskan mukena mereka. Kedunya duduk santai sambil menikmati keripik singkong yang mereka beli dari pak Soni.

“Nir, kamu dah melaksanakan UKK” Hazimah bertanya pada Nisa.

“Senin besok teh, tapi....” Nir menghentikan pembicaraannya.

“Tapi gimana?” Hazimah bertanya.

“Aku kan belum bayar biaya UKK” kata Nirma sambil memberikan surat tagihan UKK kepada Hazimah.

“Oh..., iya ya, kamu belum bayar. Hehe....   Tenang, besok bayar ya” kata Hazimah sambil berdiri dan masuk ke kamarnya.

Tak lama kemudian Hazimah keluar dari kamar sambil tangan kanannya memegang uang dua lembar. Kemudian dua lembar uang tersebut diberikan kepada Nirma.

“Nih uang untuk bayar UKK besok, kamu jangan terganggu konsentrasi pikiran ya” kata Hazimah sambil menyimpan uang itu di tangan Nirma.

“Asyiik.., terima kasih kakakku yang super baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong” kata Nirma sambil segera mengambil uang itu sambil sorak bahagia.

“Ah, kamu ada-ada saja, kaya di medsos aja” kata Hazimah menimpali sambil duduk disamping Nisa.

“Hehehe..., biarin aja, kan emang betul teh Hazimah itu orangnya baik hati kepada siapa pun” kata Nirma sambil menyendarkan kepalanya di atas paha Hazimah.

Nirma merasakan bahwa Hazimah seperti ibunya, karena tak ada lagi orang yang sedekat kakaknya. Dia sangat takut kehilangan kakaknya, dia sangat bahagia kalau berada di dekat kakaknya.

Nisa tak tertahan lagi, dia menguap beberapa kali. Matanya mulai menutup perlahan. Tanpa perlu waktu lama, Nirma sudah terbang ke alam mimpi. Dia tidur dengan tenang dalam pangkuan kakaknya yang penuh cinta. Kakak yang selalu menemaninya dalam suka dan duka. Hazimah bukan sekedar kakak bagi Nirma, tapi dia adalah sosok ibu yang mengayomi.

“Nir...,Nir..., bangun cantik! Hey..,hey..., ayo bangun pindah tidurnya di kamar! Ayo!” Hazimah membangunkan sambil mengajak Nirma pindah ke kamar.

“Mmmhhh..., kakak...., ngantuk ka...,” kata Nirma sambil tak beranjak, meskipun badannya digeserkan oleh Hazimah.

Sambil dibopong, Nirma bersama Hazimah berjalan memasuki kamar.

Pintu kamar terdengar suara ditutupkan dari dalam. Tak ada lagi suara, selain senandung jangkrik dan katak sawah yang bersahutan mengiringi jarum jam yang terus melewati angka-angka demi angka.

Di luar rumah, langit hitam tanpa awan putih. Alam jagad raya diterangi bulan purnama. Nampak indah jika diabadikan dengan kamera. Langit begitu cerah. Udara sejuk terasa, dan suasana tenang menyelimuti malam.

Jarum jam terus berdetak, jarum pendek sudah menunjuk pada angka 3, dan jarum panjang menunjuk angka 6. Di masjid terdengar suara yang membangunkan warga untuk bangun dan persiapan sahur.

Hazimah bangun dari tidur pulasnya, matanya belum terbuka lebar. Dia melihat ke arah jam dinding, matanya dikedip-kedip.

“Alhamdulillahiladzi ahyanaa ba’dama amatana wa ilahin nushur” Hazimah membaca do’a ketika bangun dari tidur.

Dia membukakan selimut yang menutupinya, kemudian turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu kamar. Pintu kamar dibuka perlahan, lalu dia berjalan menuju kamar mandi.

SIAPAKAH YANG PANTAS DISEBUT SAHABAT???


ü Yang mengajakmu makan malam di cafe?
ü Yang membeli tiket untuk nonton bareng?
ü Yang nangis bareng ketika nonton konser?
ü Yang selalu berada disebelahmu ketika foto narsis?
ü Yang mengirimkan SMS : “Jangan lupa makan siang ya..”?
ü Yang mengunjungimu ketika dalam keadaan bete dan bosan?

Baiklah ...
Mungkin itu adalah sahabat terbaik versi kita ....

Namun dalam Al-Qur’an Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan ....

Manusia yang pantas disebut sahabat dan saudara adalah “Yang membantumu dalam kebaikan dan menasehatimu dalam keburukan serta bersabar di dalamnya ...”

Maka ... hitunglah baik-baik ...

ü Siapa yang mengajak kita sholat berjamaah?
ü Siapa yang memberikan contoh kita melakukan kebaikan?
ü Siapa yang menasehati kita jika kita berbuat salah?
ü Siapa yang menjawab kegalauan kita?
ü Siapa yang membangunkan kita disaat kita telat tahajud?
ü Siapa yang mengingatkan kita disaat kita lupa dhuha?
ü Siapa yang mengajak kita untuk semangat puasa sunnah?
ü Siapa yang memotivasi kita untuk membaca Al-Qur’an?
Bila ternyata tidak ada seorang pun yang melakukannya kepada kita, sungguh malang sekali nasib kita selama ini.
Karena ternyata, kita tidak memiliki sahabat seorang pun walau kita berpikir telah memilikinya.

Maot Mah Pasti

 Waktu nu ayeuna keur ka sorang mangrupa anugrah tur amanah ti Gusti Allah nu kudu digunakeun keur bebekelan mangsa jaga mulang ka alam baqa...